Kyai, Banca'an dan Kenduri (Budaya dari Muslim China Hanafi)

Idom-idiom ini selalu bergandengan dan bertemu di tataran kearifan lokal yang selalu terpelihara dengan sakral. pertemuan idiom ini membawa kesan material-spiritual tersendiri di kalangan masyarakat Jawa. konsekuensi logis pertemuan keduanya membawa "berkat" dalam arti material dan tak luput juga dalam arti material.

Dalam arti spiritual "berkat" dapat diartikan berkah, kebahagian batiniyah. arti material adalah ya..oleh-oleh yang dibawa biasanya berupa nasi dan lauk pauk, ritualitas ini masif dilakukan masyarakat bawah terlebih lagi bagi umat Islam nahdliyin ini sudah menjadi tradisi yang fardlu ain dengan segala kompleksitas dasar hukumnya. umat Islam nahdliyin menjadi garda terdepan penjaga tradisi ritualitas ini dari dahulu(zaman walisongo) hingga sekarang.
masyarakat mendapatkan kesenangan tersendiri jika terdapat prosesi banca'an yang diselenggarakan kemudian tak lupa dihadirkan sang kyai untuk memberi tausiyah moral menjadi nilai tersendiri di hati masyarakatnya, begitu juga dengan kenduri.
pendek kata idiom ini dimanapun berada baik dalam bentuk tunggal atau bersamaan keduanya memberikan nuansa empowering tersendiri bagi pemberdayaan masyarakat.

namun apakah kita pernah bertanya dari manakah asal mula istilah kyai?
serta dari manakah istilah banca'an dan kenduri itu di serap ?
penelusuran penulis menemukan ternyata istilah kyai tersebut berasal dari bangsa china yang nota bene menjadi penyebar agama islam(hanafi) terbesar di jawa. terbesar ditunjukkan dengan banyaknya makam wali-wali yang dianggap keramat (wali songo) yang mayoritas dari china muslim (hanafi).


Kemudian bagaimana hubungan dengan istilah kyai ?

sejarah dahulu menyebutkan para penyebar agama itu selalu berpindah-pindah tempat dakwah. setelah dari desa A selama beberapa bulan dan menyebarkan agama kemudian melakukan perjalanan lagi menuju desa B begitu seterusnya hingga beliau tersebut wafat.penyebar agama ini berjalan dan terus berjalan.
adapun kata kya itu berarti jalan. di surabaya terdapat tempat yang namanya kya kya, dikawasan kembang jepun yang dahulunya merupakan kampung pecinan di masa kolonial. dinamakan kya kya, karena kawasan tersebut diperuntukkan untuk entertaint (jalan-jalan) dikaitkan juga dengan lirik lagu surabaya mlaku mlaku nang tunjungan.
karena penyebar agama ini dengan cara nomaden / kya-kya maka masyarakat kemudian menyebut penyebar agama berkulit putih ini dengan sebutan kyai.


Kemudian bagaimana dengan istilah banca'an ?

Sebelum masuknya pedagang-pedagang cina di indonesia, masyarakat indonesia menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, kepercayaan terhadap roh nenek moyang dan benda-benda yang dianggap mempunyai kekuatan, sehingga tidak jarang pula masyarakat indonesia melakukan atau menggelar upacara adat untuk menyembah roh-roh itu ataupun benda keramat tersebut.Tradisi semacam ini berlangsung juga dengan adanya pemberian sesaji misal di pohon besar atau tempat keramat lainnya.
Saat para pedagang cina datang mereka umumnya mendarat di daerah pesisir.selain berdagang mereka juga ingin menyebarkan agama budha, islam dan konfiuse tak jarang pula mereka sampai daerah pedesaan menetap membangun toko-toko bahkan ada yang menikah dengan warga pribumi. Para warga cina inilah yang juga memperkenalkan tradisi makan besar atau makan bersama atau dalam bahasa cina disebut BAN CIA’AN yang akhirnya terus berkembang dan ditiru warga pribumi sebagai tradisi BANCA’AN / SELAMATAN.
Banca’an yang biasa dilakukan di desa awalnya makan bersama saja dan diiringgi doa melalui bahasa jawa misalnya “ mugi-mugi pak pian ingkang sampun kapundhut disukani pangapunten kaliyan disukani padhang dalane kaliyan padhang kubure”.tradisi ini meliputi bermacam-macam acara antara lain :

a. Banca’an dalam rangka kelahiran seperti sepasar,setahunan dll
b. Banca’an dalam rangka kematian meliputi telung dinonan, pitung dinonan dll.
c. Banca’an dalam rangka bersih desa.
d. Banca’an dalam rangka hari-hari besar atau suci misal syuro.
e. Banca’an dalam rangka tak tentu misal pindah ke rumah baru.

Setelah itu masuknya agama islam yang dibawa oleh pedagang arab, persia dan gujarat. Dalam perkembangannya mulai ada pembacaan doa dengan bahasa arab seperti Al-Fatihah.dan sejak itu pula setiap ada banca’an mulai digunakan doa-doa islam yang dipadukan dengan bahasa jawa dengan maksud agar harapan yang diucapkan bisa lebih bermakna dan diterima Allah atau dikenal Gusti Allah.
Tradisi banca’an ini banyak berlangsung di daerah pesisir jawa yang mana banca’an ini dilakukan oleh masing-masing keluarga yang mempunyai acara misal ada kelahiran, pernikahan, dan kematian dan dalam waktu yang berbeda kalaupun dalam waktu yang sama merupakan ketidaksengajaan. Tetapi ada satu banca’an yang dilakukan pada waktu bersamaan dan itu disengaja yang disebut dengan MANGANAN. Manganan ini merupakan tradisi yang dilakukan dalam acara bersih desa dan dimaksudkan agar desa ini terhindar dari mara bahaya. Kegiatan ini biasa dilakukan pada jumat pahing dan bergilir tiap desa dalam satu kecamatan. Manganan ini diawali dengan masak di rumah masing-masing dan yang biasa dibuat adalah nasi tumpeng. Nasi tumpeng ini diberi alas SESEK yaitu semacam anyaman yang berbentuk segi empat dari bambu. Setelah sholat jumat dari tiap keluarga membawa nasi tumpengnya ke ke kuburan. Di kuburan inilah keluarga mengumpulkan nasi tumpengnya di hadapan pembaca doa yang disebut MODIN.setelah nasi terkumpul doa-doa keselamatan dari ayat-ayat Al-Quran dibacakan.sedangkan para keluarga menunggu didekat makam sanak atau kerabat yang sudah meninggal sambil ikut membaca doa untuk mereka yang sudahmeninggal maupun untuk yang masih hidup. Setelah acara baca doa selesai pembaca doa atau modin ini membagikan nasi tumpeng kepada masing-masing keluarga tapi bukan tumpeng yang dibawa dari rumah jadi nasi tumpengnya sudah diacak atau ditukar dengan milik keluarga lain.semua kelurga pulang akan tetapi tradisi ini belum selesai karena masih ada kelanjutannya.


Kemudian bagaimana dengan budaya dan istilah Kenduri itu sendiri ?

Kenduri kematian bukanlah pengaruh Hindu-Budha tetapi pengaruh budaya muslim cina hanafi dari Champa(Yunnan) , pengamat budaya dan sejarah Agus Sunyoto menegaskan bahwa budaya kenduri kematian yang dilakukan umat Islam di Nusantara, khususnya di tanah Jawa bukan karena pengaruh Hindu atau Budha karena di kedua agama itu tidak ditemukan ajaran kenduri.

"Dalam agama Hindu atau Budaha tidak dikenal kenduri dan tidak pula dikenal peringatan orang mati pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000," katanya pada seminar internasional, "Cheng Hoo, Wali Songo dan Muslim Tionghoa Indonesia di Masa Lalu, Kini dan Esok" yang digelar Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo dan PITI di Surabaya, Minggu.

Ia mengemukakan bahwa catatan sejarah menunjukkan orang Campa memperingati kematian seseorang pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 dan ke-1.000. Orang-orang Campa(Yunnan) juga menjalankan peringatan khaul, peringatan hari Assyuro dan maulid Nabi Muhammad SAW.

"Mencermati fakta itu, maka saya berkeyakinan tradisi kenduri, termasuk khaul adalah tradisi khas Campa(Yunnan) yang jelas-jelas terpengaruh faham Syi`ah(Persia). Demikian juga dengan perayaan 1 dan 10 Syuro, pembacaan kasidah-kasidah yang memuji-muji Nabi Muhammad menunjukkan keterkaitan tersebut," katanya.

Bahkan, katanya, istilah kenduri itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena dipungut dari bahasa Persia, yakni Kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahroh, puteri Nabi Muhammad SAW.

Agus Sunyoto yang juga dikenal sebagai penulis sejumlah novel dengan latar belakang wali, antara lain Syekh Siti Jenar yang bersambung hingga tujuh novel itu mengemukakan bahwa ditinjau dari aspek sosio-historis, munculnya tradisi kepercayaan di Nusantara ini banyak dipengaruhi pengungsi dari Campa(Yunnan) yang beragama Islam.

"Peristiwa yang terjadi pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 masehi itu rupanya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural religius di Majapahit," kata mantan wartawan yang kini menjadi dosen budaya di Unibraw Malang itu.

Ia memberi contoh kebiasaan orang Champa(Yunnan) yang memanggil ibunya dengan sebutan "mak", sedangkan orang-orang Majapahit kala itu menyebut "ibu" atau "ra-ina". Di Surabaya dan sekitarnya, tempat Sunan Ampel menjadi raja, masyarakat memanggil ibunya dengan sebutan "mak".

"Pengaruh kebiasaan Campa(Yunnan) yang lain terlihat pula dalam cara orang memanggil kakaknya atau yang lebih tua dengan sebutan `kang`, sedangkan orang Majapahit kala itu memanggil dengan sebutan `raka`. Untuk adik, orang Campa menyebut `adhy`, sedangkan di Majapahit disebut `rayi`," katanya.

Pada kesempatan itu, Agus membedakan pengaruh muslim Cina(Fujian) dengan Campa(Yunnan) di masa-masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit atau di era Wali Songo. Muslim Campa selama proses asimilasi melebur dengan penduduk setempat, hingga watak Campa(Yunnan)-nya hilang dan berbaur dengan kejawaan.

"Tapi muslim Cina(Fujian) masih cukup kuat menunjukkan eksistensi kecinaannya sampai beberapa abad," katanya.

Seminar tersebut untuk mengenang kebesaran Laksamana Cheng Hoo dan kaitan penyebaran Islam di Nusantara serta peran Wali Songo itu menghadirkan sejumlah pakar dari Cina, Malaysia dan Indonesia sendiri.

Begitu banyak tradisi yang ada di indonesia jadi seharusnya kita melestarikan budaya kita sehingga dapat diwariskan pada anak cucu kita kelak. Kita juga harus bisa menyaring budaya yang berasal dari luar yang tidak sesuai dengan budaya kita.budaya yang ada harus dikembangkan agar tetap ada peminatnya dan tidak mati atau punah.